Mobil saya yang lain adalah Ford Eco Sport hitam keluaran tahun 2015. Ini termasuk jenis SUV (Super Utility Vehicle), yang didesain khusus untuk segala medan. Memang, tidak salah julukan itu diberikan kepadanya. Penampilan mobil Ford Eco Sport ini mengesankan sosok yang gagah dan kokoh. Dengan dapur pacu ditenagai oleh silinder berkapasitas 1499 cc, memang mobil ini cukup kokoh namun tidak begitu boros bahan bakar.  Tapi bicara soal boros, yah relatif juga sih, karena dalam kota yang padat lalu lintas, rasionya bisa hanya sekitar 1:12. Kalau digunakan ke luar kota, menjadi sedikit lebih baik, yaitu 1:16.

Berbeda dengan Livina (lihat ulasan saya sebelumnya), mobil ini adalah jenis 5-seater, alias hanya bisa menampung 5 orang, termasuk pengemudi.

ford-ecosport-black-edition

Banyak fitur modern berbau hi-tech yang ditanamkan ke mobil ini. Salah satu yang sangat berbeda dan lumayan membuat saya kagok adalah sistem starternya. Mobil ini tidak distarter dengan cara memasukkan lalu memutar kunci kontak di sisi kemudi, namun cukup dengan menekan tombol. Pada saat tombol ditekan, kunci kontak harus berada dalam jangkauan yang cukup dekat (biasanya di kantung celana atau di tas yang diletakkan di kursi sebelah pengemudi).

Ketika mematikan pun cukup dengan menekan tombol yang sama yang terletak di dasbor sebelah kiri.  Ketika mengunci pintu pun, kita cukup menekan tombol kecil di handel pintu depan. Sekali lagi, semua ini bisa dilakukan selama kunci kontaknya berada dalam jangkauan yang cukup (sepengamatan saya sih di radius sekitar 1 meteran dari mobil).

Fitur ini cukup membuat kita yang terbiasa dengan mobil yang distater lewat kunci kontak menjadi sedikit kikuk. Makanya, harus dibiasakan benar. Jika tidak, ada dua resiko yang mungkin terjadi: terkunci dari dalam, atau lupa mengunci. Buat yang terakhir ini  bisa gawat karena seorang maling bisa saja masuk ke mobil tanpa membawa kunci kontak, dan sekalipun tidak bisa menstaternya tapi masih bisa bebas menguras barang yang ada di mobil.

Salah satu fitur modern lain adalah sensor otomatis di kaca depan yang mampu menggerakkan wiper ketika tetes-tetes air hujan membasahi kaca. Lalu atap  di bagian penumpang bisa dibuka sehingga penumpang yang ingin mejeng di jalan atau sekedar ingin menghirup udara segar bisa menongolkan kepalanya ibarat serdadu di tank.

Fitur lain yang menjamin keselamatan adalah air bag, dan alarm yang rajin mengingatkan pengemudi maupun penumpang di sebelahnya untuk selalu menggunakan sabuk pengaman. Jadi kalau Anda nekad tidak menggunakan sabuk itu, sepanjang jalan sang alarm akan terus menerus “merengek-rengek” supaya Anda menggunakannya.

Mobil terasa lebih kekinian lagi dengan adanya software yang bisa membuatnya menerima perintah berupa suara manusia. Kita bisa memerintahkan dia untuk memindah track CD dari satu lagu ke lagu lainnya, bahkan membacakan sms dan menerima panggilan telpon.

Nah, salah satu yang saya rasakan agak kurang adalah tarikannya. Tidak seperti Livina, mobil Eco ini terasa agak berat lompatnya ketika pedal gas diinjak cepat. Saya juga kurang paham mengapa demikian. Yang kedua, posisi duduknya pun terasa agak tegak dan kaku, tidak senyaman Livina. Jadi sekalipun di kabin terasa tidak bising (karena bodinya sudah sangat menyaring deru mesin) dan dikelilingi oleh piranti hi-tech, tetap saja untuk saya kedua hal tersebut membuat mobil ini agak berkurang nilainya di mata saya.

Satu hal yang mungkin patut dipertimbangkan lebih serius adalah mundurnya Ford dari Indonesia. Memang ada pernyataan bahwa layanan purna jual dan suku cadang masih tetap bisa didapatkan, namun sampai kapan? Rasanya setelah 2- 3 tahun akan makin sulit didapatkan, dan itu membuat mobil yang cukup mahal, (sekitar 220 jutaan 2 tahun yang lalu) kokoh dan gagah ini lalu terkesan agak nglokro . . . . .

Advertisements